Jumat, 24 Desember 2010
Kesalahan Kedua..
Senin, 20 Desember 2010
My dreams..
Jumat, 17 Desember 2010
Engga Penting
Masalah Kecil
Jumat, 10 Desember 2010
Suasana baru
Pelecehan seksual
Senin, 29 November 2010
BAHAYA HIV/AIDS BAGI SISWA (wr)
SISWA bagian dari remaja yang harus diselamatkan. Secara umum siswa memiliki emosi yang bergelora, meledak-ledak dan mudah terkena godaan/rayuan oleh lingkungannya. Menyadari hal ini, pemahaman pengetahuan, keluasan pandangan tentang sesuatu harus mendalam sehingga benar-benar terhayati dalam hidupnya dan bila hal tersebut tidak baik siswa dapat menghindarinya.
Pengenalan aneka jenis penyakit, lebih-lebih yang bersinggungan dengan akibat kehidupan pergaulan bebas pantas diberikan kepada remaja dan lebih khusus lagi pada siswa-siswi di bangku sekolah. Salah satu penyakit berbahaya yang perlu disosialisasikan pada siswa yakni AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom kurangnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.
AIDS disebabkan oleh virus yang dikenal dengan nama HIV (Human Immunodeficiency Virus). HIV menyerang dan melemahkan sistem pertahanan badan manusia. Virus ini membutuhkan waktu untuk menyebabkan sondrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit ini ditandai melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki, karena sel darah putih dirusak oleh virus HIV.Virus ini dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui berbagai cara di antaranya, pertama, melalui hubungan seks penetratif tanpa menggunakan kondom sehingga memungkinkan tercampurnya sperma dengan cairan vagina atau tercampurnya sperma dengan darah karena hubungan seks lewat anus. Ada pula perilaku beresiko pada kelompok laki-laki yang menyukai sesama jenis.
Kedua, pemakaian jarum suntik, semprot dan peralatan suntik lainnya tindik atau tatto. Penggunaan jarum suntik yang sudah tercemar HIV dan dipakai bergantian tanpa disterilkan terlebih dahulu. Hal ini biasanya terjadi di kalangan pengguna narkotika suntikan. Meskipun demikian, pemakaian jarum suntik di dalam penyuntikan obat, imunisasi, tatto, tindik yang telah terkena virus HIV juga dapat menjadi media penularan.
Ketiga, melalui air susu ibu (ASI).Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang terjangkit HIV positif dan melahirkan lewat vagina, kemudian menyusui bayinya dengan ASI. Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi ini berkisar hingga 30 persen, artinya setiap dari 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada tiga bayi yang lahir dengan HIV positif.
Keempat, transfusi darah atau produk darah. Melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV kemudian ditransfusikan pada orang lain maka orang tersebut akan tertular virus HIV tersebut. Terkait dengan hal ini maka transfusi darah, khususnya pendonor darah harus benar-benar sehat dan terbebas dari virus yang mematikan ini.
AIDS tidak ditularkan melalui makan dan minum bersama atau pemakaian alat makan dan minum. Pemakaian fasilitas umum seperti WC umum, telepon umum atau kolam renang. Senggolan dengan penderita juga tidak akan menularkan virus yang sangat berbahaya ini. Terkait dengan virus yang konon belum ada obat pembasminya ini, maka generasi muda, apalagi itu para siswa dan siswi harus tahu tatacara pencegahannya.
Cara pencegahan antara lain, gunakan jarum suntik yang steril dan baru apabila melakukan pengobatan karena sakit. Bila telah nikah selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman dan tidak berganti-ganti pasangan. Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan yang akan terjadi pada bayinya sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.
Semua alat yang menembus kulit dan darah termasuk pisau cukur jangan bergantian antara satu orang dengan orang lain. Apalagi orang tersebut telah diketahui menderita AIDS. Secara umum tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang yang sudah sampai pada tahapan AIDS antara lain, berat badan menurun lebih dari 10 persen dalam waktu yang singkat, demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan), dan diare berkepanjangan pula. Gejala-gejala tambahan antara lain, batuk berkepanjangan (lebih satu bulan), kelainan kulit dan iritasi serta gatal-gatal, infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan, pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.
Menyimak akibat fatal bagi pengidap HIV/AIDS, maka seluruh komponen masyarakat lebih-lebih generasi muda dan pelajar harus hati-hati dalam bergaul dan berperilaku. Anak muda, khususnya siswa wajib mendapat pemahaman akan bahayanya virus HIV ini. Pengetahuan yang mendalam serta tekad kuat untuk menghindari cara-cara penularan di atas seorang siswa akan terbebas ancaman virus maut tersebut.
Siswa-siswi merupakan aset bangsa yang harus diselamatkan. Bila para siswa telah terkena polusi virus ini, harapan masa depannya benar-benar pudar. Tatapan hari esoknya akan suram dan penuh masalah. Dari dasar ini, maka peran guru dan lebih-lebih orangtua siswa tidak ringan. Anak butuh kasih sayang dan perhatian. Pemenuhan kebutuhan materi yang melimpah belum menjamin siswa atau remaja secara luas akan terbebas dengan ancaman virus berbahaya tersebut.
Penanaman iman agama dan contoh perbuatan mulia dari guru dan orangtua merupakan modal yang paling mendasar bagi anak-anak bangsa. Bila generasi mudanya cerdas-cerdas dan berperilaku mulia akan mencerminkan harapan cerah bagi bangsa ini di masa depannya. Berawal dari lingkungan sekolah, para siswa memang wajib tahu dan paham akan bahaya HIV/AIDS secara lengkap. Amin
Bahaya Narkoba (wr)
Oleh karena itu, salah satu bentuk penanganan yang harus terus dan selalu dilakukan adalah dengan melindungi masyarakat kita untuk tidak mendekat atau didekati narkoba.
Pengenalan terhadap dampak narkotik, psikotropik, dan zat adiktif atau napza harus terus disebarluaskan. Begitu juga dampak penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya harus selalu dikampanyekan tanpa henti.
Sejak tahun 2000, kecenderungan penyalahgunaan narkoba semakin meningkat dan meluas. Begitu juga dengan perkembangan jumlah pemakai narkoba selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut catatan Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pemakai narkoba di Indoensia tak kurang dari 3 juta jiwa. Setiap tahunnya jumlah pemakai ini memperlihatkan kecenderungan selalu meningkat.
Sedangkan konsumsi narkoba di Indonesia setiap tahunnya mencapai sekitar 10 hingga 15 trilyun rupiah. Jumlah ini diperoleh dari biaya yang dikeluarkan sebagai pemakai yang mencapai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 7,5 juta perorang. Ini tentu angka yang tidak kecil untuk sebuahbisnis. Apalagi bila pemakai itu adalah pemuda dan remaja yang belum mempunyai pekerjaan, efeknya pada meningkatkan jumlah kriminalitas yang ditimbulkannya.
Dampak sosial ini diantaranya berupa pencurian, perampokan, dan berbagai jenis kriminalitas lainnya yang didorong atau dimotivasi akibat ketergantungan obat-obat berbahaya tersebut.
Biaya sosial akibat penyalahgunaan narkoba ini, sekali lagi berdasarkan catatan BNN, diperkirakan mencapai tak kurang dari Rp 4 trilyun. Ini merupakan salah satu artikel bahaya narkoba yang perlu mendapatkan perhatian semua pihak.
sumber : http://www.anneahira.com/artikel-bahaya-narkoba.htm
World Class University: Impian atau Tantangan?
Berbicara tentang World Class University, tentu Universitas/Perguruan Tinggi pada level internasional. Sejak akhir Januari 2006, Departemen Pendidikan Nasional telah membentuk Tim Gugus Tugas penetapan 10 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia yang akan dipersiapkan sebagai universitas-universitas yang akan dikembangkan menjadi ‘universitas kelas dunia’ (world-class university). Pengembangan beberapa universitas kelas dunia di Indonesia dapat menjadi terobosan penting dalam rangka akselerasi dan peningkatan kualitas dan daya saing PT Indonesia vis-a-vis PT mancanegara. Pengembangan sejumlah universitas menjadi world-class university sudah dilakukan di banyak negara Asia, khususnya di Korea Selatan, Cina, Singapura, dan bahkan Thailand. Bukan rahasia lagi, tidak banyak PT Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional, bahkan untuk level nasional bahkan lokal saja, sebagian besar belum memenuhi harapan.
Banyak faktor penyebabnya sejak dari tradisi universitas yang relatif baru, hanya sejak masa pasca Kemedekaan Indonesia mulai memiliki universitas, pembiayaan yang minim atau masih mengandalkan bantuan APBD dari daerah, kualifikasi pendidikan sumber daya dosen yang rendah, fasilitas yang tidak/kurang memadai, tidak ada atau kurangnya jaringan nasional dan internasional, dan sejumlah faktor lainnya lagi. Secara akademik,harus masuk dalam beberapa metode perankingan universitas dunia, seperti: Academic Ranking of World Universities (ARWU), The Times Higher Education Supplement (THES) maupun ranking universitas dunia secara elektronik melalui Webometric Untuk itu, suatu Universitas/Perguruan Tinggi hendaknya perlu bekerja lebih keras guna mencapai impian untuk masuk dalam kategori World Class University. Apalagi untuk Masing-masing lembaga pengakeditasi mempunyai kriteria dan metodologi penilaian yang berbeda-beda, bahkan sangat berbeda. Indonesia mengalami peningkatan jumlah perguruan tinggi yang masuk 500 besar THES. Pada 2003, hanya tiga perguruan tinggi yang masuk 500 besar, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI). Pada 2006, masuk lagi Universitas Diponegoro (Undip) dan pada 2007 bertambah lagi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Airlangga (Unair). Dengan fakta itu, sebenarnya kualitas pendidikan tinggi kita mengalami kemajuan. Berdasarkan survei itu juga berarti sudah ada perguruan tinggi kita yang disejajarkan dengan perguruan tinggi lain di dunia.
Philip G Albach dalam The Costs and Benefits of World-Class Universities (2005), ‘universitas kelas dunia’ adalah universitas yang memiliki rangking utama di dunia, yang memiliki standar internasional dalam keunggulan (excellence). Keunggulan tersebut mencakup, antara lain, keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui publikasi internasional, keunggulan dalam tenaga pengajar (profesor) yang berkualifikasi tinggi dan terbaik dalam bidangnya, keunggulan dalam kebebasan akademik dan kegairahan intelektual, keunggulan manajemen dan governance, fasilitas yang memadai untuk pekerjaan akademis, seperti perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang mutakhir, dan pendanaan yang memadai untuk menunjang proses belajar-mengajar dan riset. Dan tidak kurang pentingnya, keunggulan dalam kerja sama internasional, baik dalam program akademis, riset, dan sebagainya. Jelas tidak mudah bagi PT-PT Indonesia mencapai berbagai keunggulan tersebut. Tetapi, jika pemerintah, masyarakat, dan kalangan PT-PT Indonesia serius memiliki world-class universities, maka jelas tantangannya tidak sederhana. Namun, peluang bukan tidak ada. pemerintah pusat dan daerah menganggarkan minimal 20 persen APBN untuk pendidikan, dapat menjadi peluang untuk lebih menyeriusi peningkatan kualifikasi PT Indonesia menjadi world-class universities. Selain dianggarkan terutama untuk pendidikan dasar, sebagian anggaran pendidikan tersebut seyogianya dialokasikan untuk akselerasi
beberapa PT Indonesia ke kelas internasional.
Setidaknya ada tiga hal yang harus ada dalam strategi menuju world class university. Pertama, perguruan tinggi harus punya fokus riset atau pengembangan bidang-bidang tertentu yang akan jadi “unggulan” mereka. Sebaiknya, bidang-bidang ini punya kedekatan dengan kondisi alam, sosial, dan budaya. Hasil riset juga punya kegunaan langsung di masyarakat.
Kedua, mendorong tiga mesin utama, yaitu integrasi berbagai bidang terkait, pemanfaatan teknologi IT, dan penanaman nilai-nilai entrepreneurship. Ketiga, ada pengembangan ventura-ventura atau sumber daya yang ada di perguruan tinggi. Pengembangan itu bisa dari segi akademik dengan pengembangan intellectual capital dan sumber daya lain yang bersifat ekonomis. Strategi harus dipikirkan, dan dijalankan secara sinergi dan kontinu. Kalau tidak, sulit untuk untuk bersaing.
salah satu cara menuju world class university adalah bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi luar negeri yang kredibel. Kerja sama itu harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan dan bisa menjadi pemicu peningkatan kualitas pendidikan.beberapa kriteria yang umumnya dijadikan sebagai dasar bagi penentuan peringkat adalah sebagai berikut : Ada tidaknya peraih nobel di perguruan tinggi tersebut, Jumlah mahasiswa asing yang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tersebut, Jumlah staff yang bergelar doktor beserta prestasi akademik dan penelitian yang diraihnya, Adanya internet bandwidth connectivity yang baik serta kecepatan aksesnya, Adanya rasio student-dosen yang seimbang serta tingkat selectivity mahasiswa yang baik, Seberapa banyak publication index dari para peneliti di perguruan tinggi tersebut yang dikutip oleh orang lain, Seberapa sering update informasi dari berbagai aktivitas di perguruan tinggi tersebut, Seberapa banyak adaptasi pembelajaran modern dalam proses pembelajarannya,Terdapatnya berbagai sumber keuangan yang mendukung keberlanjutan berbagai aktivitas perguruan tinggi tersebut. Selain itu terdapat pula lembaga yang hanya menggolongkan kriteria kedalam lima item saja, yaitu : Academic reputation, Student selectivity, Faculty resources, Research : citation, papers, publication book, peer reviewed article, funding, graduated student, Financial resources : total spending perstudents, library spending per students. Maka untuk memenuhi cita-cita menjadi menjadi world class university, unit yang harus ektra keras untuk mensupportnya antara lain : lembaga penelitian, perpustakaan, teknologi informasi, biro SDM.
Paling tidak harus ada kebijakan khusus pada lembaga tersebut untuk mengejar ketertinggalannya sehingga memiliki program yang jelas untuk meningkatkan kualitasnya. Kalau untuk PTS, ada hal yang sulit untuk bisa dipenuhi agar menjadi world class university, yaitu terkait dengan student selectivity dan rasio dosen-mahasiswa. Bagaimana akan memiliki student selectivity yang baik kalau setiap tahun prodi-prodinya di target harus menerima sekian banyak mahasiswa baru, dengan alasan untuk pendanaan subsidi silang ke prodi yang lain. Bagaimana akan memiliki rasio yang seimbang kalau student body nya gemuk sementara kebijakan untuk pengadaan dosennya sangat lambat (kalaupun tidak zero growth) padahal dosen adalah salah satu point penting juga. Tidak mungkin pengajaran semuanya diajarkan oleh Dosen luar yang latar belakang disiplin ilmunya berbeda.
Jangan sampai nantinya mahasiswa banyak tapi dosennya itu-itu saja dan hal ini harus menjadi point terpenting bagi Pimpinan Universitas/PT untuk segera diselesaikan. Serta aturan-aturan Universitas/PT jangan hanya tebang pilih tetapi harus ada azas kesamaan supaya aturan-aturan itu tidak jadi “aturan khusus orang tertentu”. Peningkatan kualitas pendidikan perguruan tinggi di Indonesia ini harus jadi perhatian. membuat kebijakan untuk mengubah perguruan tinggi negeri menjadi badan hukum. Dengan badan hukum, perguruan tinggi punya otonomi dan independensi untuk mengelola aset dan keuangan mereka sendiri. Dengan begitu, mereka diminta untuk bisa lebih cepat dalam meningkatkan kualitas dan menjalin hubungan dengan perguruan tinggi luar negeri, bahwa perubahan menjadi badan hukum memberikan keleluasaan bagi perguruan tinggi untuk mengelola aset mereka masing-masing. kebebasan itu tidak akan efektif jika tidak ada strategi tepat menuju world class university.
Walaupun world class university, tentu bukan segalanya dalam kriteria pendidikan tinggi di negara berkembang karena tuntutan peran dalam pengembangan kesejahteraan rakyat menjadi sangat mendesak. Tetapi persaingan global memerlukan kemampuan segenap perguruan tinggi di Indonesia menggerakkan seluruh daya dan upaya untuk mencapai beberapa langkah secara sinergis. Beberapa kriteria world class university diantaranya adalah 40 % tenaga pendidik bergelar Ph.D, publikasi internasional 2 papers/staff/tahun, jumlah mahasiswa pasca 40% dari total populasi mahasiswa (student body), anggaran riset minimal US$ 1300/staff/tahun, jumlah mahasiswa asing lebih dari 20%, dan Information Communication Technology (ICT) 10 KB/mahasiswa. Kriteria tersebut tentu tidak 100% sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang memperjuangkan anggaran pendidikan yang memadai, terbatasnya kursi bagi mahasiswa dalam negeri yang kemampuan ekonominya rendah, maupun peran pendidikan tinggi dalam menghasilkan iptek yang bermafaat bagi kesejahteraan rakyatnya. Namun ukuran-ukuran tersebut penting sebagai dasar bagi referensi kesejajaran universitas di Indonesia dengan universitas lainnya yang bertaraf internasional.
Guna mencapai tujuan jangka panjang tersebut harus dapat meletakkan basis yang kuat melalui pembangunan karakter pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki etika akademik dengan ciri-ciri rasional, obyektif dan normatif. Etika akademik tersebut harus menjadi unsur fundamental moralitas dalam menghadapi perkembangan sosial, ekonomi, politik, budaya dan iptek. Sehingga selain tanggung jawab individu yang mengutamakan kompetensi professional, kejujuran, integritas dan obyektivitas serta sebagai institusi harus mampu mempertanggung jawabkan secara publik, hormat kepada martabat dan hak azasi manusia serta dapat menjadi sumber acuan budaya luhur bangsa. Beberapa aspek yang perlu dibenahi diantaranya untuk mencapai world class university adalah: Menjunjung tinggi nilai-nilai ilmiah, etika dan estetika yakni apakah setiap unit menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran dan kejujuran ilmiah. Seperti telah menjunjung tinggi bidang ilmu yang dikembangkan dan apakah tenaga pendidik dan unsur akademiknya telah jujur dengan bidang keilmuan yang ditekuni dan diajarkannya sehingga misalnya: tidak terjadi illegal teaching, dan ini banyak terjadi di dunia Pendidikan kita, Menjaga standar professional dan standar ilmiah yang tinggi secara berkelanjutan setingkat dengan universitas kelas dunia,Tidak melakukan diskriminasi dalam pelaksanaan kegiatan akademik, Menciptakan lingkungan belajar dan mengajar yang berkualitas dan bertaraf internasional, Mengembangkan dan menerapkan iptek pertanian yang bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan seluruh umat manusia, Menghormati hukum dan hak azasi manusia, Mampu menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan bertaraf internasional.Nilai-nilai penting tersebut harus menjadi landasan bagi pembuatan kebijakan akademik dan terus dikembangkan melalui berbagai instrumen serta dilaksanakan secara komprehensif beserta jaminan mutu, pemantauan dan evaluasinya sehingga menjadi budaya akademik Pencapaian unsur-unsur penting tersebut dalam tingkah laku para tenaga pendidik, peneliti dan tenaga kependidikan sangat menentukan kualitas sebagai institusi universitas bertaraf internasional dan berperan dalam pembangunan bidang pertanian yang dapat mensejahterakan segenap warga serta seluruh rakyat Indonesia dan umat manusia.
Tantangan ke depan dalam menghadapi persaingan global adalah kemampuan institusi menempatkan diri sejajar dengan universitas-universitas terkemuka di dunia. Dengan dimulainya dari sebuah impian akan memberikan hasil kenyataan yang sangat besar. Mudah-mudahan nantinya di Negeri laskar Pelangi tidak hanya terkenal lada (sahang) dan timah di Dunia Internasional saja, tetapi juga Universitas/PT yang World Class University. Mudah-mudahan ini bukan sebatas hanya harapan/impian tapi tantangan yang harus diwujudkan. Semoga….
Mie Instant, Enak Tapi Berbahaya (kah)? (wr)
Yang paling bagus itu adalah makanan alami yang kita olah sendiri. Sekali lagi, kalaupun kita terpaksa makan makanan instan, dalam kondisi darurat dan tidak ada pilihan lah. Konon salah satu penyebab semakin mudahnya orang jatuh sakit dan berpenyakit macam-macam adalah akibat pola makan dan jenis makanan yang mereka konsumsi. Kita bisa cari informasi apa bahaya makan mie instan lewat Google, akan bermunculan di sana.
Mie instan merupakan salah satu penyebab kanker dan berbagai jenis penyakit lainnya terutama di bagian usus. Ada loh orang yang sampai harus potong usus karena suka makan mie-instan. Banyak anak kecil yang suka mie instan. Kadang selain tiap hari, bisa jadi mereka makan mie instan dua kali atau bahkan selalu makan mie instan. Ini karena rasa mie instan yang gurih sekali karena memakai berbagai bumbu yang tak jarang berbahaya bagi kesehatan seperti MSG, perasa buatan sehingga rasanya jadi seperti rasa ayam, sapi, bakso, dsb, pengawet buatan, dan sebagainya.
Sebaiknya jangan biarkan anak makan mie instan. Jika pun harus, masaklah air yang banyak. Sisihkan sebagian air untuk kuah dan masukan ke piring. Setelah itu baru masukan mie. Buang air rebusan mie (jangan dimakan). Bumbu cukup separuh dan perbanyak airnya hingga penuh agar bumbunya jadi hambar. Para penggemar Mi Instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak tigahari setelah anda mengkonsumsi Mi Instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi. Menurut Informasi kedokteran, ternyata terdapat lilin yang melapisi mi instan. Itu sebabnya mengapa Mi Instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi Mie Instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker.
Jakarta Kota Berpunya (wr)
Ketika hujan sehari dua, macet, sebuah kata yang harusnya jarang tiba-tiba menjadi dekat dengan makan dan minum. Sebanyak dua juta manusia yang berbondong-bondong di sore hari, berjejalan dalam bus trans, metro mini, bus patas, bajai, ojek, kereta api, atau taxi dirindui kasur dan bantal di rumah seperti musafir yang kangen gubuk di belahan sana. Tertunduk dengan wajah-wajah lusuh, kusam, seolah dibebankan utang tak berperi.
Inilah Jakarta, selama lima hari. Saya membayangkan hidup bagi orang disini, seperti tak ubahnya roda-roda itu. Merangsek dan macet ketika banjir melanda, dan memenuhi badan jalan. Susah bergerak, dihimpit dan dikerdilkan oleh sebenarnya, ego sendiri. Lalu kembali kerumah, tidur lelap mencari udara di langit-langit kamar, Hidup adalah mesin itu sendiri.
Jakarta, kota tua yang dibanggakan. Namun ini seolah serasa menutup mata pada kenyataan, bahwa kota ini tua. Usia, yang bagi orang di kampong-kampung, tak pantas lagi meminggul kayu dan mendayung sampan. Bukan karena malas, namun begitulah hukum alam. Ketika usia, bukan bermakna tak produktif, namun bijaksana dan lebih arif. Ketika produktif, lebih diartikan sebagai pengayom bukan pelaku. Pendidik bukan murid.
Namun, ini masalah pengaturan saja, kata orang disini. Ketika SBY mewacanakan ibu kota pindah ke daerah lain, karenanya SBY lalu dianggap terlalu terburu-buru dan seolah berpaling dari masalah. Kata orang sini, semuanya tinggal menanti waktu, tunggu tanggal mainnya. Ketika masalah utama itu, banjir dan macet mampu diselesaikan. Semuanya akan lancar dan nyaman.
Namun, disinilah letak salahnya. Ketika bicara Indonesia, kita bukan berbicara tentang Jakarta saja, atau Jawa saja. Bukan tentang menyelesaikan banjir dan macet, selepas itu aman. Bukan mengenai itu, ini tentang menghapus ego, identitas sentralis. Bukan tentang orang sini, namun orang sana dan lainnya. Bukan berhitung berpunya dan berapa. Tapi kehendak memberi dan berbagi.
Keberpunyaan kadang melahirkan keakuan mutlak. Muaranya bisa menjadi fanatis yang tak berkesudahan. Saking berpunya itu, kadang juga bikin serakah dan tamak. Tak suka bila dipunya orang lain. Rugi bila orang lain berpunya.
Jadi pantas, bila berbondong-bondong wajah letih itu kembali di pagi hari yang basah, sedari pagi selepas Subuh. Mereka merangsek masuk, merekalah bus dan kereta api itu. Terwakilkan dengan asap dan roda-roda yang berdecit, dengan suara menderu-deru di pinggiran kota. Masuk dengan bayangan sunyi sendiri. Jakarta mengeluh, kembali memperdengarkan rintihan saban hari.
Semakin berpunya ia, maka semakin besar pula wajah-wajah semu itu mendekatkan diri. Demi Jakarta. Kota segala berpunya. Dan kami, manusia di pulau sana, beratap rumbia, masih membakar ubi jalar sambil bernyanyi riang di samar malam. Masih menatap bintang-bintang. Masih mencium wangi bunga kayu gabus belakang rumah. Kami juga tak perlu 3.500 untuk bahagia.
Ternyata Kita dan Remaja Memang Hidup Di Zaman Yang Berbeda
dan netral dapat menjadi baik, jika manusia mengisinya dengan kebaikan, dan menjadi buruk, jika manusia mengisinya dengan keburukan.
Dalam hal ini saya tidaklah akan mengupas bagaimana perkembangan zaman tersebut, namun yang ingin saya bahas adalah bagaimana anak-anak kita mengisi hari-harinya dari zaman ke zaman atau dari era ke era. Ini penting, seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa bukanlah zaman yang menetapkan baik buruknya perilaku anak kita, tapi bagaimana mereka mengisi perkembangan zaman tersebut dengan hal positif atau negatif. Sekali lagi keluarga adalah benteng utama yang mendidik anak-anak sejak dini, terutama orangtua. Karena kita sebagai orangtua bertanggungjawab atas apa-apa yang sudah kita berikan pada anak kita. Karena kitalah yang mewarnai mereka, kitalah yang melukis mereka baik atau buruk. Kita adalah panutan bagi anak, dan mereka adalah cerminan diri kita.
Rasulullah saw, menegaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Ketika seorang anak dilahirkan, otaknya terdiri dari sekumpulan neuron yang siap dianyam menjadi alat berpikir. Triliunan neuron yang membentuk sirkuit-sirkuit bisa diibaratkan Chip Pentium sebelum dimuat sofware tertentu. Murni, berkemampuan hampir tak terbatas dan belum terprogram.
Yang pertama-tama mengisi program ke dalam otak anak adalah orang tua, kemudian lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah dan lain sebagainya. Pengalaman-pengalaman ini terekam dalam otak anak. Dan pengalaman yang dominanlah yang nantinya membentuk pribadi anak. Oleh karena itu, sejak dini para orang tua mesti hati-hati bila berbicara dan berperilaku dengan anak. Karena sebagian ucapan dan perilaku anak direkam dari orang tuanya.
Kita sering mendengar atau membaca berita tentang pengaruh media pada anak atau remaja, baik itu media cetak maupun elektronik yang menyerbu mereka dengan dasyatnya. Pengaruh bacaan yang tidak pantas dikonsumsi oleh mereka, pengaruh televisi, pengaruh internet, pergaulan bebas, kenakalan remaja, pengaruh handphone, narkoba dan tindakan kekerasan yang dilakukan anak-anak serta banyak lagi yang lainnya. Orangtua sudah banyak mengeluhkan hal ini, betapa gaya hidup anak atau remaja kita yang sedemikian jauh dari nilai-nilai agama dan adat ketimuran kita sebagai bangsa Indonesia.
Hal itu bisa saja terjadi karena pengaruh perkembangan zaman saat ini, seperti perkembangan teknologi yang sedemikian canggih lebih kuat dampaknya terhadap anak-anak. Kalau kita kilas balik waktu kita dulu masih anak-anak, pengaruh berbagai kemajuan zaman tidaklah sebesar saat ini. Tantangan, pengaruh media baik itu elektronik atau cetak, pengaruh perkembangan teknologi tidaklah sehebat seperti sekarang. Ya memang zaman kita sangat berbeda, dan ingat "kita memang hidup di zaman yang sangat
berbeda". Kita lebih punya filter untuk menyaring dengan baik dari segala pengaruh buruk apapun itu. Sekali lagi kita hidup di zaman yang berbeda dengan anak-anak kita sekarang. Ketika anak hidup dengan pola yang serba instan, maka mereka dan juga kita mesti siap menerima segala konsekuensinya. Kitalah yang harus bisa mengimbangi perkembangan dan pertumbuhan anak yang sedemikian pesat. Kita harus selalu mendampingi setiap langkah-langkah mereka dengan memberi bekal yang kuat sejak dini, yaitu membangun pondasi agama yang kuat pada anak-anak kita. Dapat memposisikan diri kita sebagai pribadi tangguh yang berkarakter serta shalih, dengan memaksimalkan peran kita sebagai orang tua dan sekaligus juga sebagai sahabat bagi mereka. Karena sungguh mengerikan apa yang terjadi pada anak-anak kita saat ini. Apakah kita masih akan berlepas diri atau menutup mata dari fenomena ini.
Ingatlah, terkadang kita tidak bisa mengenal anak kita dengan baik, kita sangat tidak mengenal anak kita, dihadapan kita mungkin mereka baik-baik saja, tapi dibelakang kita mereka melakukan hal-hal yang luar biasa diluar dugaan kita, yang tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa anak-anak kita akan jadi korban kemajuan zaman yang demikian pesat. Terkadang anak-anak,
sama seperti kita yang bisa saja menjadi mulia ataupun hina. Membesarkan anak-anak di zaman sekarang yang serbuan pengaruh buruk yang lebih dominan, sama seperti berjalan disebuah labirin.
Tapi percayalah, insyaAllah dengan pondasi agama yang kuat dan doa serta menyerahkan sepenuhnya penjagaan dan perlindungan anak-anak kita semata-mata kepada Allah, Hasbunallah, maka mereka akan menjalani hidup dibawah ridho-Nya. Akan menjadi generasi-generasi kebanggaan umat dan bangsanya. Karena bagaimanapun, apa-apa yang terjadi pada anak-anak kita, tak lepas
bahwa kita juga sangat berperan pada perjalanan hidup mereka. Tinggal memilih, apakah mau melukis atau mewarnai mereka dengan hal-hal baik atau yang buruk, terserah kita. Dan kita sebagai orang tua, juga ikut andil dan punya peran yang dominan dalam merusak generasi muda kita. Percaya atau tidak, tanyalah pada diri kita masing-masing. Wallahu 'alam.
Penyelenggaraan Pendidikan yang Berkualitas
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”.
Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.
Pemerintah dan Solusi Permasalahan Pendidikan
Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.
Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.
Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan ,”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.”
Peran Pendidikan dalam Pembangunan
Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.